Indonesian Military & Police’s alcohol business kills Papuans
* Illegal alcohol business run by Indonesian Military & Police
* Alcohol smuggled in on Indonesian military transports
* Hundreds of Papuans are victims of alcohol poisoning
* Regent’s wife is one of main illegal alcohol traders
(Tanah Merah [red earth], Boven Digoel is in the south of West Papua, near the PNG border)
http://maroke.wordpress.com/2008/06/05/bisnis-miras-tni-polri-di-boven-d...
Tanah Merah Digoel, Bodipost - Do you know about bio-militarism? Bio-militarism is the Indonesian military and police’s [TNI-POLRI] new ways of wiping out Papuan populations. It is carried out in all regions of Papua province through food and drink poisoning.
This crime has successfully sent hundreds of Papuans to their graves and hundreds of others have experienced serious health risks. The crime has proved effective because when compared with killing people with machine guns, it is not easy to for the perpetrators of bio-militarism to court.
Boven Digoel has been targeted as a bio-militarism operational zone and in the last three months a special alcoholic drink labelled Alexander has been distributed in this region.
A joint business involving TNI-POLRI and several non-Papuan settlers has produced Alexander drink. They set up a factory in Assiki (Korindo Forest Concession Area). According to a source from BodiPost, the basic materials of Alexander drink are rain water, alcoholic drinks labelled Robinson, 100% alcohol, an unknown substance and tea bags to colour the drink. All materials then are mixed in a container. The mixture of various materials produces a smell that can attract people who love alcoholic drinks.
The BodiPost source also said that consumers of Alexander drink were fooled by label that is posted on Alexander drink. The label states Jakarta as a place where the drink is produced. Thus, the consumers think that the drink is produced in Jakarta and is widely distributed all over Indonesia. In fact, the drink factory is in Assikie, Boven Digoel West Papua and it is freely managed by TNI-POLRI. The target customers are only Papuans in Boven Digoel Regency.
The distribution of Alexander drink has been widely known in this region especially in Tanah Merah town but it has also been disturbed to the local community in the last three months. The distributors of the drink sometimes force and intimidate people to buy the drink. TNI-POLRI intelligence agents have sold thousand of litres of Alexander illegally in almost all corners of Tanah Merah town and this has killed some victims.
According to BodiPost investigations, none of the victims are migrants (non-Papuans). All victims are native Papuans. All the victims died immediately after drinking Alexander. The names of some of the victims are:
(1) Geradus Omba from Wambon tribe, lived in Persatuan village, Tanah Merah;
(2) Fransiskus Kabagaimu from Yahray tribe (Mappi), lived in Sokanggo village, Tanah Merah;
(3) Ferdinandus Metemko from Muyu tribe, lived in Sokanggo village, Tanah Merah;
(4) Abraham Waken from Muyu tribe, lived in Sokanggo village, Tanah Merah.
All these victims died suddenly after consuming Alexander which they bought from TNI-POLRI intelligence agents.
Hundred of other victims did not die but suffered serious health risks. Generally, they experienced breathing problems, digestion problems, long time headaches, memory disorder, sexual disfunction, blindness, aching bones, knee pain and loss of appetite. The people experience these health problems after consuming Alexander and other types of alcoholic drinks (e.g. Robinson and Cap Tikus brand).
Health services are very expensive. The regional government is corrupt and des not fulfil its promises to provide better health service as they claimed they would in their political campaigns. This has caused problems for the victims who are struggling to find ways to get their health problems cured.
Several Papuan nurses who knew what is happening could not bear it any more and started speaking out about TNI-POLRI’s crime and said that the condition of the victims (their names will be available later) will not be stable after they leave hospital because of the poisoning they got from Alexander and other types of drinks they consumed.
Up till now when this report is written, Alexander drink is still freely distributed around. However, its fatal risk has made consumers of alcoholic drinks change their choice to other drinks such as RB and Cap Tikus drink. TNI-POLRI and other illegal traders backed by TNI-POLRI provide the two kinds of drinks inside Merauke and they back supplies that come from outside Merauke such as Timika and outside Papua. Some eyewitness confessed that in order to avoid the government’s clearance or public checking , the alcoholic drinks are smuggled together with military equipment using any kind of transportation i.e., sea, land, and air. Thus, their packages are never checked by any officers.
Yusak Yaluwo is the Regent of Boven Digoel. One of the illegal traders is the Regent’s wife, Mrs Ester Lambey Yaluwo whom people always call ‘Mama of Boven Digoel’. The Regent’s wife is backed by TNI-POLRI in her illegal business and is the biggest supplier of RB and Cap Tikus drinks. The two kinds of drinks are distributed from Menado (North Celebes/Sulawesi). She has made huge profits from this illegal and destructive business.
It seems that the Regent’s wife who is originally from Menado (North Celebes/Sulawesi) will continue her illegal business in order to get greater profits. The worry, however, is that this illegal business will cause young people’s mental health problems, people’s health risks and even death.
A few observers have predicted that the Regent’s wife’s illegal business will increase in the future because she gets necessary backing from the [Indonesian] state security forces and a guarantee of impunity from the legal system as well mass media propaganda. However, the business will kill more and more countless victims.
She also gets supports from her husband, the first and most important man in the whole Boven Digoel Regency. Boven Digoel’s government has a bad reputation for mismanagement, corruption, racism and anti-native Papuans. ***
End
-----------------------------------------------------------------------------------
http://maroke.wordpress.com/2008/06/05/bisnis-miras-tni-polri-di-boven-d...
Bisnis Miras TNI-Polri di Boven Digoel Telan Korban
Oleh : Tengget Digoel - The Boven Digoel Post
Tanah Merah Digoel, Bodipost - Masih ingatkah anda akan aksi pembasmian rakyat Papua melalui Biomiliterisme (Peracunan makanan dan minuman) yang digelar Tentara Nasional Indonesia dan Polisi Republik Indonesia (TNI-Polri) di hampir seantero Papua beberapa waktu lalu? Kejahatan yang sukses mengantar ratusan orang Papua ke liang kubur dan ratusan lainnya mengalami gangguan kesehatan serius itu ternyata belum sepenuhnya dihentikan karena rupanya daya pembasmi dan dampak hukumnya dinilai lebih efektif ketimbang menggunakan senapan mesin. Di Boven Digoel, sebuah wilayah yang rakyat pribuminya pernah menjadi sasaran Operasi Biomiliterisme, sejak tiga bulan terakhir ini beredar sebuah minuman beralkohol dengan nama Aleksander.
Minuman Aleksander dibuat oleh TNI-Polri dan beberapa orang pengusaha non Papua melalui sebuah usaha yang bersifat patungan. Pabrik mereka didirikan secara tersembunyi di Assikie (area HPH Korindo Group). Menurut sebuah sumber BodiPost, bahan dasar minuman Aleksander adalah Air Hujan, Miras Jenis Robinson (RB), Alkohol 100%, Cairan zat tertentu (namanya belum diketahui) dan Teh Celup sebagai pewarna. Cara membuatnya, semua bahan dasar tadi disatukan dalam sebuah baskom atau loyang kemudian diaduk sehingga bahan dasarnya tercampur secara baik dengan rasa dan aroma yang bisa membangkitkan selera para pemabuk.
Masih menurut sumber tadi, label Miras Aleksander dibuat di Jakarta hanya untuk menipu pembeli seolah-olah pabriknya ada di Jakarta. “Para pembeli biasa tertipu, mereka pikir Aleksander dibuat di Jakarta oleh sebuah pabrik tertentu dan dipasarkan di seluruh Indonesia, padahal pabriknya ada di Assikie, dikelola secara bebas oleh TNI-Polri dan Miras jenis ini hanya dikhususkan untuk masyarakat Papua yang ada di kabupaten Boven Digoel,” ujarnya menjelaskan.
Selama tiga bulan terakhir, peredaran minuman Aleksander sangat marak di wilayah ini, terutama di Ibu Kota Tanah Merah dan sangat meresahkan penduduk setempat karena kadang-kadang penjualnya memaksa dan mengintimidasi penduduk agar membeli Miras jenis ini. Di hampir seluruh pelosok kota Tanah Merah, ribuan liter minuman Aleksander dipasarkan secara gelap oleh Intelijen TNI-Polri dari berbagai kesatuan dan benar-benar telah menelan korban jiwa.
Dari penelusuran BodiPost, semua korbannya tidak ada satupun yang non Papua. Semuanya orang Papua, pribumi Boven Digoel. Korban-korban ini langsung meninggal dunia setelah mengkonsumsi Aleksander. Mereka adalah (1) Geradus Omba, asal suku Wambon, warga Kampung Persatuan, Tanah Merah; (2) Fransiskus Kabagaimu, asal suku Yahray (Mappi), warga Kampung Sokanggo, Tanah Merah; (3) Ferdinandus Metemko, asal suku Muyu, warga Kampung Sokanggo, Tanah Merah; (4) Abraham Waken, asal suku Muyu, Kampung Sokanggo, Tanah Merah. Para korban ini meninggal dunia setelah mengkonsumsi minuman Aleksander yang dijual oleh Intelijen TNI-Polri.
Sedangkan ratusan korban lainnya tidak meninggal dunia tetapi mengalami gangguan kesehatan yang cukup serius. Pada umumnya mereka mengalami gangguan pernafasan, gangguan pencernaan, sakit kepala berkepanjangan, gangguan ingatan, disfungsi seksual, gangguan pengelihatan (gejala kebutaan), sakit tulang, nyeri pada lutut (gejala lumpuh) dan berkurangnya nafsu makan. Mereka mengalami gangguan kesehatan setelah mengkonsumsi Alexander dan beberapa jenis Miras lainnya seperti RB dan Cap Tikus.
Mahalnya biaya pengobatan akibat penghisapan Pemerintah Kabupaten atas rakyat setempat lewat sektor kesehatan dan infrastruktur kesehatan yang tidak memadai seperti dijanjikan para pejabat dalam kampanye-kampanye politik mereka turut menambah beban bagi para korban maupun keluarga mereka yang harus putar-otak mencari biaya pengobatan dan pemulihan kesehatan.
Beberapa suster dan mantri asli Papua yang tidak lagi mampu membungkus kejahatan TNI-Polri mengatakan bahwa para korban yang menderita sakit ini (nama-nama mereka masih didata) diperkirakan kondisi mereka tidak akan stabil seperti sebelum terserang racun yang sengaja disebar lewat minuman Aleksander, RB dan Cap Tikus.
Sampai berita ini ditulis, minuman Aleksander masih dijual secara bebas tetapi karena dampaknya yang fatal, para pembeli beralih membidik Miras jenis lain seperti RB dan Cap Tikus. RB dan Cap Tikus diketahui tidak bisa langsung menyebabkan kematian seperti Aleksander. Kedua jenis minuman ini dipasok dari Merauke, Timika dan dari luar Papua oleh TNI-Polri dan pedagang gelap lainnya yang dibeking TNI-Polri. Beberapa saksi mata menyebutkan, untuk memudahkan penyelundupan dan menghindari pemeriksaan di depan publik, Miras selundupan ini selalu diangkut bersama logistik Militer TNI-Polri melalui jalur darat, laut maupun udara sehingga tidak ada satupun petugas yang boleh memeriksa.
Salah satu pedagang gelap yang dibeking TNI-Polri secara berlapis adalah istri bupati Yusak Yaluwo, Ny. Ester Lambey Yaluwo. Ketua Dharma Wanita kabupaten Boven Digoel yang sering dijuluki “Mama Boven Digoel” ini merupakan pemasok terbesar RB dan Cap Tikus yang langsung didatangkan dari Manado. Ia secara diam-diam telah meraup keuntungan yang besar dari bisnis gelap yang bersifat merusak ini.
Dilihat dari peluang bisnis, wilayah pemasaran dan konsumen yang ada, rupanya wanita Manado ini akan terus dengan leluasa mengembangkan bisnisnya untuk meraup keuntungan yang tidak sedikit dari hancurnya mental generasi muda, konflik keluarga, gangguan kesehatan yang serius dan kematian rakyat setempat akibat mengkonsumsi RB dan Cap Tikus yang dipasok secara langsung dari tanah leluhurnya dan dipasarkan secara bebas di tanah leluhur suaminya.
Sejumlah kalangan berprediksi bahwa bisnis Miras yang ditekuninya mempunyai prospek yang sangat cerah. Bisnisnya dipastikan akan meroket dengan omzet yang meningkat dari hari ke hari diiringi dengan jumlah korban yang pasti terus berjatuhan karena dirinya mendapat dukungan modal, jalur bisnis gelap, keamanan, jaminan hukum dan propaganda media massa untuk putar-balik fakta.
Dukungan ini diperoleh dari suaminya sebagai orang nomor satu di kabupaten Boven Digoel, sebuah kabupaten yang mempunyai reputasi jelek karena manajemen pemerintahannya amburadul, korup, rasis dan anti rakyat pribumi.***
Juni 5, 2008 - Ditulis oleh maroke | Kejahatan TNI-Polri | Aleksander, Assikie, Boven Digoel, Cap Tikus, Ester Lambey, Logistik, Militer, Miras, Robinson, TNI-Polri, Yusak Yaluwo | Tidak ada Komentar
End
By : Tengget Digoel - The Boven Digoel Post
5 June 2008
Comments
Post new comment